Artificial Intelligence

Bagaimana AI Membentuk Persepsi terhadap Sebuah Brand?

JerryJerry··5 min read

Brand perception adalah bagaimana orang melihat, memahami, dan menilai sebuah brand.

Persepsi tersebut bisa terbentuk dari banyak hal.

Mulai dari website, iklan, media sosial, review pelanggan, pengalaman menggunakan produk, hingga rekomendasi dari orang lain. Sekarang, ada satu sumber baru yang mulai ikut memengaruhi persepsi tersebut:

Artificial Intelligence.

Ketika seseorang bertanya kepada AI mengenai sebuah brand, produk, atau kategori tertentu, AI dapat memberikan penjelasan yang kemudian menjadi salah satu referensi bagi pengguna.

Artinya, AI tidak hanya membantu orang menemukan brand. AI juga dapat ikut membentuk bagaimana brand tersebut dipahami.

Pelanggan Bisa Mengenal Brand Melalui AI

Bayangkan seseorang belum pernah mendengar sebuah software sebelumnya.

Mereka bertanya:

“Apa software HR yang cocok untuk perusahaan kecil?”

AI kemudian menyebutkan beberapa pilihan.

Pengguna tertarik dengan salah satu brand dan bertanya lagi:

“Apa kelebihan software tersebut?”

Kemudian:

“Cocok untuk perusahaan seperti apa?”

Dari percakapan tersebut, pelanggan mulai membangun persepsi.

Mereka mungkin melihat brand tersebut sebagai:

  • Mudah digunakan
  • Cocok untuk perusahaan kecil
  • Premium
  • Murah
  • Lengkap
  • Cocok untuk enterprise
  • Spesialis di industri tertentu

Padahal mereka mungkin belum pernah membuka website brand tersebut.

Ini menunjukkan bahwa persepsi brand bisa mulai terbentuk sebelum pelanggan berinteraksi langsung dengan perusahaan.

AI Menjadi Salah Satu Perantara Informasi

Dulu, ketika ingin mengetahui sebuah perusahaan, pelanggan biasanya mencari langsung melalui Google atau membuka website brand.

Sekarang proses tersebut bisa berbeda.

Pengguna dapat bertanya:

“Apa itu Brand X?”

AI kemudian merangkum informasi mengenai brand tersebut.

Dalam kondisi seperti ini, AI menjadi semacam perantara antara brand dan calon pelanggan. Pengguna tidak langsung membaca semua informasi dari sumber aslinya. Mereka mendapatkan versi ringkas terlebih dahulu.

Karena itu, bagaimana AI memahami dan menjelaskan sebuah brand mulai menjadi hal yang penting.

Brand Bisa Dipersepsikan Berbeda dari Positioning yang Diinginkan

Setiap perusahaan biasanya memiliki positioning tertentu.

Misalnya sebuah produk ingin dikenal sebagai:

“Software sederhana untuk bisnis kecil.”

Namun, ketika ditanyakan kepada AI, produk tersebut justru lebih sering dijelaskan sebagai:

“Software untuk perusahaan menengah.”

Ada perbedaan antara positioning yang ingin dibangun brand dengan persepsi yang muncul.

Hal seperti ini juga bisa terjadi pada berbagai aspek.

Brand ingin dikenal sebagai produk premium, tetapi AI lebih sering membahas harga murah. Brand ingin dikenal sebagai solusi enterprise, tetapi lebih sering muncul pada pertanyaan untuk bisnis kecil. Brand ingin dikenal sebagai specialist, tetapi dijelaskan sebagai produk general. Perbedaan seperti ini dapat menjadi insight penting bagi tim marketing.

Informasi yang Tidak Konsisten Bisa Membentuk Persepsi yang Tidak Jelas

Persepsi brand sangat dipengaruhi oleh konsistensi informasi.

Misalnya website menyebutkan bahwa produk ditujukan untuk perusahaan kecil. Media sosial lebih banyak membahas enterprise. Profil perusahaan di platform lain menggunakan deskripsi yang berbeda. Artikel lama masih menggunakan positioning sebelumnya.

Jika informasi mengenai sebuah brand tidak konsisten, calon pelanggan bisa kesulitan memahami sebenarnya brand tersebut menawarkan apa.

Hal yang sama dapat terjadi pada AI.

Jika informasi yang tersedia tidak jelas atau berbeda-beda, AI dapat memberikan penjelasan yang kurang sesuai dengan positioning terbaru.

Karena itu, konsistensi informasi brand tetap penting.

AI Bisa Menjadi “First Impression”

First impression sangat penting dalam marketing.

Ketika seseorang pertama kali melihat sebuah brand, mereka mulai membentuk opini. Saat ini, first impression tidak selalu datang dari homepage website. Bisa saja berasal dari jawaban AI.

Misalnya pengguna bertanya:

“Apakah Brand X bagus?”

Jawaban yang mereka terima dapat menjadi gambaran awal mengenai brand tersebut.

Jika jawabannya relevan dan sesuai dengan positioning brand, hal ini dapat membantu pelanggan memahami produk dengan lebih cepat.

Namun jika informasi yang diberikan kurang tepat atau tidak lengkap, pelanggan bisa mendapatkan persepsi yang berbeda.

Karena itu, AI Visibility bukan hanya berbicara mengenai apakah brand disebut, tetapi juga bagaimana brand dijelaskan.

Konteks Mention Sama Pentingnya dengan Jumlah Mention

Bayangkan dua brand.

  • Brand A disebut 100 kali.
  • Brand B disebut 60 kali.

Sekilas Brand A terlihat memiliki visibility lebih besar.

Namun ternyata Brand A sering disebut hanya sebagai alternatif. Sementara Brand B lebih sering muncul sebagai rekomendasi untuk kebutuhan yang sangat relevan dengan target market mereka.

Dalam situasi tersebut, jumlah mention saja belum cukup. Tim marketing perlu melihat konteks.

  • Apakah brand disebut secara positif?
  • Dalam kategori apa?
  • Untuk jenis pelanggan seperti apa?
  • Apakah dibandingkan dengan kompetitor tertentu?
  • Apakah positioning yang muncul sesuai dengan positioning perusahaan?

Hal-hal tersebut membantu memberikan gambaran lebih lengkap mengenai brand perception di AI.

AI Bisa Mengasosiasikan Brand dengan Kategori Tertentu

Salah satu elemen penting dalam branding adalah association.

Ketika mendengar sebuah brand, orang biasanya menghubungkannya dengan sesuatu.

Misalnya:

  • Brand tertentu identik dengan premium.
  • Brand lain identik dengan harga terjangkau.
  • Ada brand yang identik dengan kemudahan.

Ada juga yang identik dengan teknologi.

AI juga dapat membentuk association serupa berdasarkan informasi yang tersedia.

Jika sebuah brand sering muncul pada pertanyaan:

“Software untuk startup.”

Lama-kelamaan brand tersebut bisa terlihat kuat pada kategori startup.

Jika sering muncul pada:

“Software enterprise.”

Persepsinya bisa berbeda.

Karena itu, memahami kategori dan prompt yang berkaitan dengan sebuah brand dapat memberikan insight mengenai association yang terbentuk.

Persepsi Brand Juga Bisa Dibandingkan dengan Kompetitor

Brand tidak hidup sendirian.

Pelanggan biasanya membandingkan beberapa pilihan sebelum mengambil keputusan.

AI juga sering digunakan untuk melakukan perbandingan.

Misalnya:

“Apa perbedaan Brand A dan Brand B?”
“Mana yang lebih cocok untuk bisnis kecil?”
“Mana yang lebih mudah digunakan?”

Pertanyaan seperti ini dapat menunjukkan bagaimana brand diposisikan dibandingkan kompetitor.

Misalnya AI menjelaskan:

  • Brand A lebih sederhana.
  • Brand B memiliki fitur lebih lengkap.
  • Brand C lebih cocok untuk perusahaan besar.

Dari perspektif marketing, informasi seperti ini sangat menarik.

Karena perusahaan dapat melihat bagaimana perbedaan antar-brand digambarkan kepada calon pelanggan.

Brand Perception Tidak Terbentuk Hanya dari AI

Penting untuk tidak melihat AI secara berlebihan. AI hanyalah salah satu bagian dari customer journey.

Persepsi pelanggan tetap dipengaruhi oleh banyak faktor:

  • Website.
  • Produk.
  • Customer service.
  • Review.
  • Social media.
  • Harga.
  • Pengalaman pengguna.
  • Word of mouth.

AI dapat menjadi salah satu sumber informasi tambahan.

Namun, seiring semakin banyak orang menggunakan AI untuk research dan comparison, pengaruhnya dalam proses discovery menjadi semakin relevan untuk dipantau.

Bagaimana Tim Marketing Bisa Memantau Persepsi Brand di AI?

Ada beberapa pertanyaan sederhana yang dapat mulai dipantau.

Bagaimana AI Menjelaskan Brand?

Perhatikan deskripsi yang diberikan ketika pengguna menanyakan brand.

Apakah sesuai dengan positioning perusahaan?

Brand Diasosiasikan dengan Apa?

Lihat jenis pertanyaan yang membuat brand sering muncul.

Apakah terkait harga, kualitas, kemudahan, industri tertentu, atau jenis pelanggan tertentu?

Siapa yang Sering Dibandingkan dengan Brand?

Kompetitor yang sering muncul bersama dapat menunjukkan bagaimana pasar mengelompokkan brand.

Apakah Persepsi Berubah?

Lakukan monitoring dari waktu ke waktu.

Deskripsi atau positioning brand dapat berubah seiring perubahan informasi yang tersedia.

Jangan Hanya Mengukur Visibility

AI Visibility memang penting.

Tetapi semakin matang strategi marketing, semakin penting untuk melihat lebih dari sekadar:

“Apakah brand kita muncul?”

Pertanyaan berikutnya adalah:

“Bagaimana brand kita dijelaskan?”

Lalu:

“Apakah penjelasan tersebut sesuai dengan positioning yang ingin kita bangun?”

Dari sini, AI Visibility berkembang menjadi sesuatu yang lebih luas.

Bukan hanya visibility.

Tetapi juga brand perception monitoring.

Brand Monitoring di Era AI

Selama ini perusahaan mungkin sudah melakukan brand monitoring melalui:

  • Social listening
  • Customer reviews
  • Media monitoring
  • Search analytics
  • Survey pelanggan

AI Search dapat menjadi sumber tambahan.

Dengan melihat bagaimana brand muncul dan dijelaskan dalam jawaban AI, tim marketing mendapatkan perspektif baru mengenai bagaimana brand dapat dipahami oleh calon pelanggan.

Insight tersebut kemudian dapat dikombinasikan dengan data dari channel lain.

Pantau Bagaimana AI Melihat Brand Anda dengan SpiderPrompt

Melakukan pengecekan manual bisa membantu mendapatkan gambaran awal.

Namun, semakin banyak prompt dan platform yang perlu dipantau, semakin sulit melakukan monitoring secara konsisten.

SpiderPrompt membantu bisnis memahami bagaimana brand mereka muncul di berbagai platform AI.

Dengan AI Mentions, tim marketing dapat melihat bagaimana dan kapan brand disebut.

Prompt Tracking membantu memahami pertanyaan yang berkaitan dengan brand maupun kategori bisnis.

Brand Competitor membantu membandingkan visibility dan positioning brand dengan kompetitor.

Sementara AI Analytics memberikan insight tambahan mengenai aktivitas AI terhadap website.

Dengan monitoring yang dilakukan secara berkala, perusahaan dapat mulai memahami bukan hanya:

“Apakah AI mengenal brand kita?”

Tetapi juga:

“Ketika AI membicarakan brand kita, persepsi seperti apa yang sedang dibentuk?”

Pelajari lebih lanjut tentang AI Visibility dengan SpiderPrompt.

#Artificial Intelligence#News#SEO